vintage flower

Beberapa waktu yang lalu, aku diundang ke sebuah acara. Di sana aku bertemu dengan salah satu teman baikku yang mungkin sudah 6 bulan terakhir tidak bertemu. Dia tampak cantik dengan gamis syar’i dan jilbab panjangnya, juga ada sedikit make up di wajahnya. Tidak berlebihan namun tetap membuat wajahnya bersinar. Terlihat sekali bahwa dia sangat menghormati acara yang didatanginya ini dengan berpenampilan dengan sebaik-baiknya.

Seperti biasa, setiap kali bertemu perbincangan kami seakan tidak ada habisnya. Ada saja yang kita bicarakan, mulai dari cerita teman-temannya, cerita teman-temanku, atau cerita teman-teman kami yang beririsan. Sejujurnya dari awal bertemu ada satu topik yang ingin langsung kuutarakan ke dia. Ah, tapi nanti saja-lah. Toh kita juga harus mengikuti jalannya acara yang sakral ini.

Acara berlangsung khidmat sampai akhirnya ada waktu jeda antara acara pertama ke acara kedua. Aku dan temanku ini duduk di kursi yang disediakan untuk para undangan. Sejenak kami hanya hening memperhatikan kondisi sekitar. Aku yang dari tadi menahan, akhirnya mengeluarkan pertanyaan yang jawabannya sangat ingin aku dengar darinya.

How do you feel?“, kataku membuka pembicaraan lagi.

Seketika suasana ruangan semakin ramai. Setelah mulai terkondisikan lagi, dia menimpali, “How do I feel? Hmm.. Have you ever liked someone for a long time?”

Nope, I guess” jawabku. Aku menambahkan, “Kalau aku jadi kamu sepertinya aku tidak akan hadir disini. Rasanya pasti sulit.”

Dia pun diam seperti memikirkan sesuatu.

“Hmm… mungkin ini yang terbaik dariĀ  Allah. Nil, aku teringat teman kita selalu berdoa seperti ini untuk kompetisinya. Siapapun yang menang semoga kemenangan itu hanya untuk kebaikan, bukan untuk hal-hal yang bathil. Begitu pun aku. Aku selalu berdoa kepada Allah, jika memang dia dan aku bersama adalah sebuah kebaikan untuk kami berdua dan juga membawa kebaikan untuk agama ini, aku minta untuk didekatkan. Tapi jika tidak, aku minta agar Allah menunjukkan jalan kepada kami menuju orang-orang terbaik untuk kami masing-masing.

“Aku pun sudah tahu bahwa cepat atau lambat semua ini akan terjadi. Aku lega bahwa hari ini Allah sudah menjawab doaku secara tunai Nil, tidak ada lagi keabu-abuan.”, dia menambahkan. “Lagi pula, aku tidak ingin dilihat seperti orang yang seperti itu, yah kamu tahu lah, orang yang seperti menghilang atau menghindar.”

Di saat itu ingin rasanya aku peluk temanku itu. Tapi, aku merasa jika aku melakukannya, sepertinya aku yang akan beruraian air mata.

Setelah itu kami melanjutkan perbincangan lain di luar hal yang tadi kami bicarakan hingga teman-teman SMA teman baikku ini sampai di tempat acara. Kebetulan makanan juga sudah terhidang. Aku pun izin untuk mengambil makanan agar perutku yang kosong dari pagi ini tidak terdzhalimi. Ketika aku kembali, aku melihat temanku sedang berpelukan lama dan emosional dengan seorang akhwat yang kuduga adalah teman SMA-nya. Ternyata dugaanku benar. Aku mengetahuinya kemudian bahwa akhwat yang tadi dipeluk temanku ini adalah teman SMA-nya yang mengetahui seluk beluk ceritanya, yang mungkin kurang lebih sama dengan apa yang aku ketahui.

Ah temanku satu ini, kutahu pasti ada banyak hal yang tersimpan di hatinya dan ingin ditumpahkannya, tapi entah kenapa dia selalu enggan jika tidak dipancing. Aku tahu pasti rasanya pasti sulit. Sangat sulit. Terima kasih sudah mengajarkan langsung kepadaku artinya keikhlasan dan penerimaan atas semua jawaban yang Allah berikan. Meski sulit, tetap harus percaya bahwa apa yang Allah takdirkan adalah yang terbaik.

Jadi teringat dengan perkataan Ali bin Abi Thalib.

“Saat doaku dikabulkan aku bersyukur karena itulah keinginanku. Dan saat doaku tidak dikabulkan aku lebih bersyukur karena itulah keinginan Allah.”

 

-Depok, 8 Mei 2018.