Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia. (QS al-Ahzab [33]: 72).

Entah dari kapan keinginan naik gunung ini muncul. Kemudian dengan tanpa sadar keinginan ini tertulis pada lifeplan 5 tahunan RK.

Kamis 30 April 2015, aku bersama dengan 11 orang lainnya berangkat dari Jakarta menuju Boyolali untuk satu hal yang sudah direncanakan sejak 2 minggu sebelumnya, yaitu naik gunung Merbabu. Aku cukup nekat untuk hal yang satu ini. Bagaimana tidak? Sebelumnya belum pernah sama sekali naik gunung. Bahkan hanya untuk sekedar naik bukit saja belum pernah. Ini adalah pengalaman naik gunung-ku yang pertama, dan langsung gunung Merbabu. Hahaha. Dengan berbekal restu dari orangtua –meski diizinkan dengan setengah hati karena baru izin setelah bayar transport- dan uang di ATM serta fisik yang tidak dipersiapkan untuk naik gunung, akhirnya dengan mengucap bismillah aku jalan menuju tujuan.

tim pendakian gunung merbabu

Perjalanan menuju Boyolali cukup lama, sekitar 13 jam kalau tidak salah. Berangkat dari terminal Pulo Gadung pukul 19.00, sampai di terminal Boyolali hari Jumat 1 Mei 2015 sekitar pukul 08.00. Setelah dari terminal Boyolali, kami naik bus menuju Polsek Selo. Sesampainya di Polsek Selo kami pun sarapan dan beberapa dari kami langsung melapor ke Polsek. Belum selesai, kami harus naik mobil pick up untuk menuju basecampgunung Merbabu dari Polsek Selo. Kami pun sampai di basecamp dan langsung berdoa demi keselamatan selama pendakian si kembaran Merapi. Perjalanan pun dimulai.

Track gunung Merbabu terdiri dari 3 pos dan 2 sabana. Pos 1, pos 2, pos 3, sabana 1, dan sabana 2. Dari basecamp, kami berjalan menuju pos 1. Entah berapa lama waktu yang ditempuh untuk menuju pos 1. Yang pasti…“Oh gini ya rasanya naik gunung”, pikirku dengan napas yang terengah-engah sambil memikul gendongan 11 kg setelah berjalan sejauh 100 meter dari basecamp. Rasanya…mau turun lagi aja sambil gelinding. “Mana sih pos 1, kok gak nyampe-nyampe”, “Sabar sabar, kan mau sampe puncak kan”, batinku bergulat. Untungnya dalam rombongan kami ada om-om yang sabar menunggu para gadis-gadis unyu naik. Walau aku tahu mungkin mereka geregetan karena kecepatan berjalan kami dibawah 5 km/jam.

Demi mencapai tujuan untuk summit attack dengan tepat waktu, rombongan dibagi menjadi 2 tim. Tim pertama berisi pria-pria kuda berjalan duluan ke sabana 1 –tempat camp­– dengan kecepatan maksimal untuk segera mendirikan tenda disana.

Tim kedua berisi pria-pria kuda sisanya berserta gadis-gadis lenjeh yang dua diantaranya baru pertama kali naik gunung. Tim kedua berjalan dengan kecepatan slow but sure, yang penting sampai di sabana 1 dengan selamat.

Di tengah perjalanan rahmat Allah pun turun. Hujan, Alhamdulillah. Segera kami memakai ponco masing-masing. Lagi-lagi…“oh gini ya rasanya naik gunung sambil hujan”, pikirku. Meskipun perjalanan saat hujan menjadi lebih dingin dan medannya semakin licin, aku sangat menikmatinya. Seseorang bilang, saat naik gunung nikmati saja setiap

langkahnya. Lelah itu pasti, pegal itu keniscyaan, tapi nikmati saja, jangan pernah mengeluh. Mengeluh dapat menghilangkan segala nikmat.

Perjalanan menuju pos 1, pos 2, dan pos 3 kurang lebih sama. Kiri dan kanan adalah hutan. Sebelum naik, aku banyak baca mitos tentang gunung. Hehe. Jadilah selama perjalanan aku selalu tengak-tengok ke dalam hutan, barangkali menemukan sesosok manusia sedang bertapa atau siluman macan. Hehehe.

Sampailah kami di pos 3, dimana banyak para pendaki mendirikan tenda disana. Kami sampai di pos 3 pukul 16.00. Saat itu kabut datang dan mulai menutupi bukit sebagai jalan menuju sabana 1. Dalam keadaan pakaian yang basah karena hujan selama perjalanan tadi dan juga kabut yang sudah menutupi jalan, kami tim dua memutuskan untuk mendirikan tenda di pos 3 dan menjemput tim satu yang mungkin sudah berada di sabana 1 untuk kembali ke pos 3. Dua orang dari tim dua pun menjemput tim satu dan sisanya mendirikan tenda dan mulai memasak. Sekitar pukul setengah 6, 2 orang yang tadi menjemput datang bersama tim satu. Mereka meminta untuk kami yang tim dua tetap berjalan menuju sabana 1 karena medan disana lebih memudahkan jika ingin summit attack.

Akhirnya tanpa berpanjang lebar, kami membereskan kembali tenda dan alat-alat makan dan segera jalan menuju sabana 1 dengan melewati bukit yang cukup tinggi itu.

Bukit yang kami lewati untuk menuju sabana 1 cukup terjal dan medannya agak sulit. Ditambah lagi saat itu hari sudah gelap sehingga diperlukan penerangan yang cukup untuk menuntun kami berjalan. Pukul 19.00 kami sampai di sabana 1. Hari benar-benar telah gelap. Kami sama sekali tidak bisa melihat pemandangan sabana yang cantik.

Sesampainya di sabana 1, kami segera mendirikan tenda kembali dan menyiapkan bahan-bahan masakan untuk makan malam. Akhirnya makanan pun jadi dengan segala keterbatasan yang ada. SAYANGNYA, beberapa orang sudah menetap di tenda dan tidur. Sama sekali tidak cicip makanan yang sudah dibuat. Disitu kadang saya merasa sedih.

Sedih karena perlu effort yang cukup besar untuk sekedar buat nasi sepanci, apalagi buat lauknya. :”) Sedih karena merasa kasihan sama yang masak. Hiks. Malam pun menjadi-jadi, setelah makan sedikit nasi dan sayur (takut sakit perut) aku memutuskan untuk masuk ke sleeping bag di dalam tenda.

Berdasarkan itinerary, perjalanan untuk summit attack dilakukan jam 2 pagi. Namun takdir berkata lain, hujan turun dan tak berhenti sampai pukul 3 pagi. Akhirnya kami baru bersiap untuk summit attack jam 5 pagi dan mulai berangkat pukul 6 pagi.

Terbitlah terang sehabis gelap. Aku yang baru sampai di sabana 1 pukul 19.00 akhirnya

dapat melihat dengan jelas keindahan di sekitar. Setelah berjalan melewati satu bukit, aku tidak bisa menahan mulut ini dari mengucap asma Allah. MasyaAllah indah! Sejauh mata memandang hanya ada padang rumput hijau membentang. Tidak ada pohon, tidak ada bangunan, tidak ada debu-debu polusi. Cantik! Keindahan yang ada ini membuatku kecewa, kecewa karena tidak bisa mengabadikan keindahan yang ku lihat ke dalam sebuah foto. What I really saw is way more beautiful, way more awesome, and way more more more than what I took as a picture.

sabana gunung merbabu

Begitu mensyukuri apa yang telah Allah berikan kepadaku. Tubuh yang sehat, kaki yang sempurna, mata yang normal sehingga dapat menyaksikan kebesaran-Nya. Disini aku mulai berdialog dengan hati. Teringat dengan materi liqo sebelumnya mengenai amanah khalifah yang dibebankan kepada manusia. Teringat pada surat Al-Ahzab ayat 72 yang aku tuliskan di awal cerita ini. Ayat yang menceritakan bagaimana amanah khalifah yang dipegang manusia saat ini awalnya ditawarkan kepada gunung dan kemudian gunung pun menolak karena takut tidak mampu untuk memikul beban amanah tersebut. Membayangkan gunung yang sebegitu megahnya, sebegitu kokohnya, sebegitu besarnya menolak amanah menjadi khalifah karena takut tidak mampu, jadi sadar bahwa amanah ini begitu penting dan amanah penting ini akhirnya jatuh kepada manusia. Semangat menjadi khalifah di bumi, manusia! Semangat mengemban amanah yang istimewa! #MateriLiqoEND

Keindahan sepanjang perjalanan menuju puncak tidak berhenti aku nikmati sampai kira-kira kami telah sampai di bukit kedua,  karena kabut pun datang beserta hujannya. Segala puji bagi Allah. Untungnya tadi kami membawa ponco.

Sepertinya yang namanya fatamorgana itu ada dimana-mana ya, tak terkecuali saat naik gunung. Setelah menaiki satu bukit yang tinggi, ada bukit lain yang lebih tinggi. Aku kira itu sudah sampai puncak. Setelah menaiki bukit yang kedua, ternyata ada bukit ketiga yang juga lebih tinggi. Hahaha :”). Untungnya carrier ditinggal di tenda.

Setelah menaiki entah berapa bukit, sampai juga kami di puncak Kentheng Songo. Cuaca saat kami sampai disana mendung dan dipenuhi kabut sehingga sama sekali tidak dapat melihat pemandangan dari puncak. Aku rapopo. Meskipun cuacanya begitu kami tetap mengabadikan foto berada di atas puncak gunung Merbabu. Ya Allah begitu banyak nikmat yang Kau berikan. Aku yang sebelumnya sama sekali tidak pernah terpikirkan untuk naik gunung akhirnya sekarang berada di salah satu puncak ciptaanMu.

Kurang lebih sekitar 2 jam kami berada di atas. Setelah puas berfoto ria, kami pun turun menuju tempat camp untuk segera packing untuk pulang. Saat sampai di camp hujan kembali deras ditambah dengan angin yang kencang. Mau tidak mau kami menunda untuk packing dan memilih untuk menetap di tenda agar tidak kehujanan. Di tenda, kami diam, kelaparan, kedingingan, kebasahan. Saat itu kami sangat menggigil. Rasanya berpelukan pun tidak ada gunanya karena badan kami sama-sama basah dan dingin. Dinginnya bukan main, susah untuk dideskripsikan dengan kata-kata. Terlebih lagi kami diam tidak melakukan aktivitas sehingga tidak ada kalori yang terbakar sehingga tubuh menjadi lebih dingin. Saat itu aku hanya bisa berdoa.

Akhirnya hujan reda tapi angin masih bertiup kencang. Kami memutuskan untuk bergerak packing agar tubuh tidak semakin dingin dan juga dapat sampai di basecamp sebelum magrib. Pukul 14.00 kami selesai packing dan turun. Saat turun cuaca berubah menjadi lebih cerah dan….Gunung Merapi pun menampakkan diri dengan gagahnya. Indah.

gunung merapi dari merbabu

Effort untuk turun tidak sebesar saat naik. Hanya memerlukan sekitar 3 jam untuk sampai basecamp dari sabana 1. Pukul 17.00 kami sampai dibasecamp. Setelah itu rasanya mau copotin kaki satu-satu. :”) Sampai dibasecamp kami makan makanan surga (a.k.a indomie) sambil menunggu mobil pickup datang. Pukul 19.00 mobil datang dan langsung kami semua naik ke mobil dan berangkat menuju terminal Boyolali. Perjalanan pulang tak seindah perjalanan datang. Disamping karena aku yang pulang kloter satu harus duduk di bangku plastik sepanjang malam, juga karena harus kembali ke realita bahwa hari Senin harus kuliah dan menghadapi propensi.

Sampai jumpa, Merbabu! Pengalaman yang sangat mengesankan, Alhamdulillah. Mau kemana lagi selanjutnya?

All the photos are taken by Wildan Anky.