Beberapa waktu yang lalu, aku dan 2 orang Tiara mengikuti seminar parenting yang diadakan oleh Yayasan Sahabatku Mitra Remaja. Judul seminar ini adalah “Neuroparenting practicioners. Orang Tua Millenial: Menyiapkan Generasi Tangguh Cerdas dan Berakhlak berbasis Kinerja Otak” yang diisi oleh seorang psikolog sekaligus Direktur UNIK.Edu – Educational Psychological Consultancy, Ani Khairani, M.Psi. Aku memang sedang suka-sukanya mengikuti seminar atau berita tentang parenting. Maklum, faktor usia, hihi. Seminar yang satu ini juga berhasil membuatku tertarik untuk ikut, terutama karena ada kata yang asing bagiku, Neuroparenting. Apakah itu?

Neuroparenting terdiri dari dua kata, neuro dan parenting. Neuro adalah bahasa ilmiah dari sistem saraf yang terdapat di otak. Sedangkan parenting seperti yang kita ketahui adalah pengasuhan anak. Jika digabungkan, kurang lebih makna neuroparenting adalah serangkaian cara pengasuhan anak dengan mengoptimalkan kinerja otak. Tujuannya adalah untuk menjadikan anak tangguh, cerdas, dan berakhlak baik. Jika tujuan-tujuan ini tercapai, insyaAllah anak akan menjadi pribadi yang baik dan positif di hidupnya. Pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana caranya?

Sebelum masuk ke cara, kita perlu mengenal terlebih dahulu sistem otak yang berperan besar dalam cara pengasuhan anak ini. Otak manusia terdiri dari 100 miliyar neuron (sel otak) yang siap distimulasi, yang setiap 1 neuron dapat membuat hubungan dengan 10.000 neuron lainnya untuk membentuk koneksi sirkuit bakat, kemampuan, perilaku, dan personality. Hubungan antar neuron terjadi saat otak distimulasi. Namun hubungan tersebut juga dapat mati atau putus saat tidak lagi digunakan. Contoh, A memiliki kebiasaan bangun tidur siang. A bertekad ingin mengubah kebiasaan tersebut. Akhirnya selama 3 bulan A berhasil mengusahakan diri untuk bangun pagi. Selama proses pengubahaan kebiasaan itu, hubungan antar neuron ‘bangun siang’ akan putus karena tidak lagi digunakan, sedangkan neuron ‘bangun pagi’ akan terbentuk dengan terbentuknya kebiasaan baru.

Kembali ke neuroparenting. Dalam pengasuhan anak, penting sekali untuk menstimulasi otak anak sehingga kepribadian, perilaku, dan bakat anak dapat terbentuk ke arah yang baik. Ada beberapa bagian otak anak yang perlu distimulasi saat masa pengasuhan, yaitu:

  1. Pancaindera. Stimulasi keseluruhan indera anak dengan melakukan belajar praktik. Hal ini akan sekaligus membuat anak paham dan terbiasa akan sesuatu. Contoh, saat mengenalkan anak dengan buah mangga, anak akan lebih paham ketika langsung dibiarkan memegang dan merasakan buah manga daripada hanya dideskripsikan saja bentuk, warna, dan rasanya.
  2. Amygdala, bagian otak yang berperan mengatur emosi manusia. Cara stimulasinya adalah kenalkan emosi dasar seperti takut, sedih, bahagia, jijik, marah. Kemudian teladankan ekspresi emosi yang baik.
  3. Ganglia basalis, bagian otak yang mengatur gerak manusia dan kemampuan otomatisasi. Cara menstimulasinya dengan membiasakan anak untuk berbuat baik hingga perbuatan baik tersebut menjadi otomatis pada diri anak. Contoh, membiasakan berdoa sebelum makan dan tidur.
  4. Broca-wernick, dua bagian otak yang berperan pada kemampuan berbicara dan pemahaman bahasa. Luangkan waktu untuk berdialog dengan anak. Tidak perlu lama tapi berkualitas.
  5. Lobus parietalis, bagian otak untuk memproses informasi yang berhubungan dengan rasa, suhu, dan sentuhan. Masukan imajinasi-imajinasi yang konstruktif, bimbing imajinasi untuk membuat anak tumbuh menjadi visioner. Kemarin saat seminar dicontohkan seperti ini. Jika anak meminta permen, berikan pilihan kepada mereka; dapat permen sekarang tapi hanya satu atau dapat permen nanti tapi dapat dua. Jika anak memilih pilihan yang kedua maka pikiran-pikiran visioner sudah terbentuk pada otak anak.

Jangan pernah masukan imajinasi yang bersifat destruktif kepada anak karena akan terbentuk sirkuit/hubungan false belief/bias berpikir yang akan berpengaruh pada kehidupannya kelak. Contohnya cukup lucu. Pasti banyak dari kita yang saat kecil diberitahu jika keluar saat malam nanti akan diculik kolong wewek. Tidak sedikit akhirnya dari kita yang sampai dewasa mempercayai hal tersebut berkat adanya hippocampus pada otak yang menyimpan memori. Inilah imajinasi destruktif. Yang menjadi bahaya adalah saat kita melakukan hal yang sama pada anak kita kelak. Rantai imajinasi destruktif tersebut akan terus berlanjut. Seharusnya yang dilakukan adalah berikan alasan rasional mengapa tidak baik keluar pada malam hari. Imajinasi konstruktif akan mengarahkan anak untuk menjadi pribadi yang lebih positif.

  1. Hippocampus, bagian otak yang menyimpan memori. Bagian ini tumbuh di usia anak 4 tahun. Stimulasi dengan berpikir rasional/kognitif, memilih, menilai, baca dan kalkulasi.
  2. Insula, mengatur stimulus yang diterima indera dan diasosiasikan menjadi harmoni yang baik.

Selanjutnya adalah bagian otak untuk orangtua. Bagian otak yang diperlukan sebagai orangtua untuk mengasuh anak adalah:

  1. Pre Frontal Cortex (PFC). Bagian otak ini mengatur pemahaman terhadap hal-hal seperti menentukan baik dan buruk, konsekusi atas setiap perilaku, prediksi hasil, ekspektasi, dan kontrol sosial. Cara menstimulasinya dengan tanamkan niat baik dan tanamkan bahwa setiap perilaku yang kita tampilkan harus mempunyai tujuan.
  2. Amygdala. Kendalikan dorongan emosi dan tunda jika ada keinginan untuk muncul, kaitkan perasaan dengan nilai moral yang telah dipahami oleh PFC.

Tahukah kamu? Jika sebagai orangtua kita tidak bisa menahan emosi terhadap anak dan pada akhirnya meluapkan segala kemarahan kepada anak dengan cara membentak, neuron-neuron pada otak anak akan seketika mati dan hubungan-hubungan yang sudah terhubung akan seketika putus. Sekali bentakan terhadap anak akan mengakibatkan 1 miliyar neuron anak mati dan akan luruh bersama urine.

  1. Cingulat. Latih kemampuan penyesuaian diri dan fleksibilitas dalam menghadapi segala sesuatu sehingga memiliki alternatif pemecahan masalah.
  2. Basal ganglia. Ganti kebiasaan buruk menjadi kebiasaan baik. Butuh waktu 3 bulan untuk mengubah kebiasaan.

Untuk part 1 sekian dulu ya. Part 2 insyAllah akan aku tulis mengenai peta perkembangan otak manusia dan cara mengelola emosi yang penting bagi orangtua dalam melakukan pengasuhan anak agar tujuan neuroparentingdapat tercapai dengan baik. ^^