tentang pelecehan seksual

Beberapa waktu belakangan ini di medsos, terutama Twitter, ramai sekali kicauan terkait pelecehan seksual. Mulai dari gerakan #metoo sampai yang terakhir adalah kasus pelecehan seksual pemain bola terhadap seorang penyanyi. Percaya atau tidak, aku sama sekali tidak pernah membaca satu artikel pun tentang kasus itu. Tidak pernah pula mencari tahu atau bahkan sekadar googling nama-nama tokoh yang terkait di dalamnya. The power of Twitter lah yang berhasil membuatku mengerti semua yang terjadi. Bahkan hanya dengan satu kali scroll, rasa-rasanya timeline sudah menjadi portal berita yang berisikan rangkuman kasus yang terjadi, lengkap dengan tanggapan unik dari para netizennya.

Jadi intinya adalah seorang pemain bola melakukan pelecehan seksual kepada seorang penyanyi. Karena tidak terima akhirnya si penyanyi menyebarkan bukti perilaku pelecehan tersebut ke publik lewat media sosial. Sejauh yang aku ketahui, ada dua cabang pendapat terkait kasus ini. Pendapat pertama, mereka yang setuju dengan sikap berani sang penyanyi untuk menyebarkan kasus ini ke media sosial. Pendapat yang kedua, mereka yang tidak setuju dengan perilaku penyanyi ini dan terkesan menjelek-jelekan penyanyi tersebut. Di manakah posisiku?

Let me tell you this. I am a woman and was a victim of sexual harassment.

Ini adalah rahasia besarku yang tak pernah aku ceritakan pada siapapun, bahkan ke orangtua-ku sekalipun. Bahkan tidak juga di sini. Aku hanya akan bercerita tentang perasaan yang selama ini menghantui, sebagai wanita dan juga korban. Kenapa? Because I am not brave enough to say anything. It is really embarrassing for me to tell people about that awful thing happened to me.

Kejadian itu terjadi saat aku masih SD, saat masih belum mengerti apa-apa. Bahkan aku baru mengerti bahwa kejadian itu adalah termasuk pelecehan seksual saat sudah menginjak usia remaja. Logikanya, aku tidak seharusnya mengingat perbuatan itu karena saat itu aku tidak mengerti. Tetapi nyatanya otakku seolah-olah menyimpan hal itu rapat-rapat di kotak memori dan mengeluarkannya lagi dari kotak ketika aku sudah menginjak remaja, di saat aku mengerti tentang banyak hal. Di saat itu lah timbul rasa malu luar biasa dalam diriku. Sedih? Iya. Marah? Apalagi.

Tapi kemudian apa yang aku lakukan? Cerita ke orangtua? Saudara? Atau teman? NO. Aku memilih untuk menyimpannya rapat-rapat kembali di kotak memori, dengan bentuk yang berbeda pula tentunya. Memori itu sekarang hitam, kotor, bau, seperti sampah yang harusnya dibuang. Tapi aku tak bisa membuangnya karena takut, malu, dan seluruh perasaan-perasaan negatif yang menghantui. Aku selalu berfikir, “it’s already been irrelevant today, don’t bother yourself telling others, Nil”. Tapi aku salah. Hal itu akan terus terjadi jika tidak dibangun kesadaran terkait pelecehan seksual di antara sesama wanita. Dan salah satu caranya adalah dengan berbagi pengalaman.

Saat #metoo movement menjadi trending di Twitter, aku seperti merasa lega. Hmm lebih tepatnya aku merasa bahwa aku ternyata tidak sendiri. Ternyata ada banyak orang yang bahkan di sekitarku mengalami hal yang sama, bahkan lebih parah. Aku kagum dengan mereka yang berani dan kuat berbagi pengalamannya. Karena aku sampai saat ini masih akan tetap menyimpan hal yang kualami untuk diri sendiri, menguncinya dalam box memori, dan menelan kuncinya sehingga tak perlu dibuka-buka kembali di masa depan.

Yang ingin kusampaikan di sini, sangat tidak mudah bagi para korban untuk membuka apa yang dialami. Sulit bagi kami untuk bercerita. Butuh keberanian hebat bagi kami untuk bisa berbagi karena hal itu sangat memalukan, menyedihkan, dan merupakan sesuatu yang seharusnya dikubur dalam-dalam. Jadi mohon hargailah wanita yang dengan berani menceritakan pengalamannya. Jangan pernah mengejek atau mencelanya, karena percayalah seremeh apapun kasusnya, itu bukanlah hal yang mudah untuk diceritakan. Jadikan-lah setiap pengalaman itu sebagai pembelajaran agar kejadian-kejadian yang sama tidak terulang di masa depan, bukan menjadi bahan cercaan dan omongan di belakang.

– Depok, 6 Juni 2018